Rabu, 23 Mei 2012

MENGENAL POHON GAHARU (Aquilaria malacensis)




Kegiatan pemberdayaan masyarakat dan pelibatan masyarakat secara partisifatif menjadi syarat mutlak dalam pembangunan kehutanan yang berkelanjutan. Tentu saja, tidak hanya penghijauan, reboisasi dan konservasi saja yang menjadi focus utama dalam wacana menyelamatkan hutan dan SDA lainnya, yang utama adalah bagaimana masyarakat di dalam dan sekitar hutan mendapatkan manfaat ekonomi dari kearifan-kearifan lokal yang mereka yakini dan wariskan secara turun temurun. 
Salah satu budidaya yang sangat proesfektf dikembangkan oleh masyarakat adalah Budidaya Gaharu (Aquilaria malaccensis).  
Yuk, kita mengenal Gaharu/engkaras....

 
PENDAHULUAN

     Gaharu mulai dikenal masyarakat Indonesia pada sekitar tahun 1200 yang ditunjukan oleh adanya perdagangan dalam bentuk tukar menukar (barter) antara masyarakat Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat dengan para pedagang dari daratan China, Kwang Tung. Masyarakat memperoleh gaharu sebagai hasil pungut dari hutan alam dengan memanfaatkan pohon-pohon yang telah mati alami dengan bentuk produk berupa gumpalan, serpihan serta bubukan. Sebagai salah satu komoditi Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK), gaharu semula memiliki nilai guna yang terbatas hanya untuk mengharumkan tubuh, ruangan dan kelengkapan upacara ritual keagamaan masyarakat Hindu dan Islam. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi industri kimia serta farmasi serta didukung berkembangnya paradigma dunia kedokteran dan pengobatan untuk kembali memanfaatkan bahan tumbuhan alami (back to nature), produk gaharu selain dibutuhkan sebagai bahan industri parfum dan kosmetika, juga dibutuhkan sebagai bahan obat herbal, untuk pengobatan stress, asma, rheumatik, radang ginjal dan lambung, bahan anti biotik TBC, serta tumor dan kanker.

     Indonesia merupakan negara produsen gaharu terbesar di dunia, hingga akhir tahun 1990 mampu menghasilkan lebih dari 600 ton per tahun, sejak tahun 2000 produksi terus menurun dan dengan kuota sekitar 300 ton/th hanya mampu terpenuhi antara 10 - 15 %, bahkan sejak tahun 2004 dengan kuota 50 – 150 ton/th, tidak tercatat adanya data ekspor gaharu dari Indonesia.

   Berkembangnya nilai guna gaharu, mendorong minat negara-negara industri untuk memperoleh gaharu dengan harga jual yang semakin meningkat. Tingginya harga jual mendorong upaya masyarakat merubah pola produksi dengan cara  menebang pohon hidup dan mencacah batang untuk memperoleh bagian kayu yang telah bergaharu. Upaya tersebut telah mengancam kelestarian sumberdaya pohon penghasil di berbagai wilayah sebaran tumbuh. Dalam upaya melindungi dari kepunahan sumberdaya pohon penghasil, komisi CITES (Convention on International in Trade Endangered Species of Fauna and Flora) sejak tahun 2004 telah menetapkan larangan dan atau pembatasan pemungutan gaharu alam dari genus Aquilaria spp dan Gyrinops sp dengan memasukan ke dua genus tersebut dalam daftar tumbuhan Appendix II CITES.
                
            Maka dalam mendukung upaya konservasi dan membina kelestarian produksi, serta upaya mengantisipasi perkembangan permintaan pasar dalam meningkatkan nilai guna, sehingga pembatasan dan larangan perdagangan gaharu dari genus Aquilaria spp dan Gyrinops sp dapat dicabut, alternatif  produksi gaharu perlu bersumber dari hasil pembudidayaan.

     Secara teknis pembudidayaan terhadap jenis-jenis pohon penghasil gaharu berkualitas dan bernilai komersial tinggi, sesuai sifat fisiologis pohon,  ideal dikembangkan di berbagai wilayah endemik sesuai daerah sebaran tumbuh, selain itu dimungkinkan pula dapat diintroduksikan pada berbagai lahan-lahan atau yang memiliki kesesuaian tumbuh. Berkembangnya pembudidayaan diharapkan selain dapat berperan dalam melestarikan plasma nutfah, juga sekaligus dapat terbina upaya kelestarian produksi gaharu yang bernilai konstruktif dalam revitalisasi sektor kehutanan dalam membina perolehan pendapatan masyarakat serta devisa negara.

TINJAUAN UMUM

         Secara botanis tumbuhan penghasil gaharu memiliki susunan tata nama, (taxonomi) dengan Regnum : Plantae , Divisio : Spermatophyta (berbunga), Sub-Divisio : Angiospermae (berbiji tertutup), Class : Dycotyledon (berkeping dua) Sub-Class : Archichlamydae, memiliki tiga (3) famili yakni Thymeleaceae, Euphorbiaceae dan Leguminoceae dengan delapan (8) genus yaitu Aquilaria, Aetoxylon, Dalbergia, Enkleia, Excoccaria, Gonystylus, Gyrinops dan Wiekstroemia. Di Indonesia untuk sementara diketahui terdapat 27 jenis yang memiliki bentukan hidup berupa pohon, semak, perdu dan atau sebagai tumbuhan merambat (liana) (Table 1)

Tabel 1 : Potensi jenis dan dugaan sebaran tumbuh pohon penghasil gaharu di
               Indonesia

No
Nama Botanis
Famili
Daerah Penyebaran
1.
Aquilaria malacensis
Thymeleaceae
Sumatera, Kalimantan
2.
A. hirta
Thymeleaceae
Sumatera. Kalimantan ( ? )
3.
A. fillaria
Thymeleaceae
Nusa Tenggara, Maluku, Irja.
4.
A. microcarpa
Thymeleaceae
Sumatera, Kalimantan (?)
5.
A. agalloccha
Thymeleaceae
Sumatera, Jawa, Kalimantan
6.
A. beccariana
Thymeleaceae
Sumatera, Kalimantan (?)
7.
A. secundana
Thymeleaceae
Maluku, Irian Jaya
8.
A. moszkowskii
Thymeleaceae
Sumatera
9.
A. tomentosa
Thymeleaceae
Irian Jaya
10.
Aetoxylon sympethalum
Thymeleaceae
Kalimantan, Irja, Maluku.
11.
Enkleia malacensis
Thymeleaceae
Irian Jaya, Maluku
 12.
Wikstroemia poliantha
Thymeleaceae
Nusa Tenggara, Irja.
13.
W. tenuriamis
Thymeleaceae
Sumatera,Bangka, Kalimantan
14.
W. androsaemofilia
Thymeleaceae
Kalimantan,NTT,Irja, Sulawesi.
15.
Gonystylus bancanus
Thymeleaceae
Bangka, Sumatera, Kalimantan
16.
G. macrophyllus
Thymeleaceae
Kalimantan, Sumatera.
17.
Gyrinops cumingiana
Thymeleaceae
Nusa Tenggara, Sulawesi, Irja.
 18.
G. rosbergii
Thymeleceae
Sulawesi, Nusa Tenggara
 19.
G. versteegii
Thymeleaceae
Maluku, NTT, NTB.
 20.
G. moluccana
Thymeleaceae
Maluku, Halmahera
 21.
G. decipiens
Thymeleaceae
Sulawesi, Maluku, Irja,
 22.
G. ledermanii
Thymeleaceae
Irian Jaya
 23.
G. salicifolia
Thymeleaceae
Irian Jaya
 24.
G. audate
Thymeleaceae
Irian Jaya
 25.
G. podocarpus
Thymeleaceae
Irian Jaya
 26.
Dalbergia farviflora
Leguminoceae
Sumatera, Kalimatan.
27.
Exccocaria agaloccha
Euphorbiaceae
Jawa, Kalimantan, Sumatera (?)
Sidiyasa dan Suharti ( 1987) ; Sumarna ( 1998 ) ; Anonimous ( 2004) (Data diolah).
             
              Daerah sebaran tumbuh pohon penghasil gaharu di Indonesia dijumpai  di wilayah hutan Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian Jaya dan Nusa Tenggara. Secara ekologis berada pada ketinggian 0 – 2400 m.dpl, pada daerah beriklim panas dengan suhu antara 28ยบ – 34°C, berkelembaban sekitar 80 % dan  bercurah hujan antara 1000 – 2000 mm/th. Lahan tempat tumbuh pada berbagai variasi kondisi struktur dan tekstur tanah, baik pada lahan subur, sedang hingga lahan marginal. Gaharu dapat dijumpai pada ekosistem hutan rawa, gambut, hutan dataran rendah atau hutan pegunungan, bahkan dijumpai pada lahan berpasir berbatu yang ekstrim. 

            Beberapa sifat biofisiologis tumbuh pohon penghasil gaharu yang penting untuk diperhatikan adalah faktor sifat fisiologis pertumbuhan, sebagian besar pohon pada fase pertumbuhan awal (vegetatif) memiliki sifat  tidak tahan akan intensitas cahaya langsung (semitoleran) hingga berumur 2 - 3 tahun. Faktor lain sifat fenologis pembungaan dimana setiap jenis, selain dipengaruhi oleh kondisi iklim dan musim setempat juga akan dipengaruhi oleh kondisi edafis lahan tempat tumbuh. Sifat fenologis buah/benih yang rekalsitran, badan buah pecah dan tidak jatuh bersamaan dengan benih. Sifat fisiologis benih memiliki masa istirahat (dormansi) yang sangat rendah, benih-benih yang jatuh di bawah tajuk pohon induk pada kondisi optimal setelah 3 – 4 bulan akan tumbuh dan menghasilkan permudaan alam tingkat semai yang tinggi dan setelah 6 – 8 bulan akan terjadi persaingan, sehingga populasi anakan tingkat semai akan menurun hingga 60 – 70 %. Aspek pertumbuhan permudaan alam tingkat semai penting diketahui sebagai dasar dalam penyediaan bibit tanaman dengan cara memanfaatkan cabutan permudaan alam. 

     Beberapa ciri morfologis, sifat fisik, sebaran tumbuh serta nama daerah jenis pohon penghasil gaharu di Indonesia sebagai berikut :

Aquilaria spp.   

Pohon dengan tinggi batang yang dapat mencapai antara 35 – 40 m, berdiameter sekitar 60 cm, kulit batang licin berwarna putih atau keputih-putihan dan berkayu keras. Daun lonjong memanjang dengan ukuran panjang 5 – 8 cm dan lebar 3 – 4 cm, ujung daun runcing, warna daun hijau mengkilat. Bunga berada diujung ranting atau diketiak atas dan bawah daun. Buah berada dalam polongan berbentuk bulat telur aatau lonjong berukuran sekitar 5 cm panjang dan 3 cm lebar. Biji/benih berbentuk bulat atau bulat telur yang tertutup bulu-bulu halus berwarna kemerahan.

Jenis A. malaccensis di wilayah potensial dapat mencapai tinggi pohon sekitar 40 m dan diameter 80 cm, beberapa nama daerah seperti : ahir, karas, gaharu,garu, halim, kereh, mengkaras dan seringak. Tumbuh pada ketinggian hingga 750 m dpl pada hutan dataran rendah dan pegunungan,  pada daerah yang beriklim panas dengan suhu rata-rata 32 ° C dan kelembaban sekitar 70 %, dengan curah hujan kurang dari 2000 mm/tahun. Jenis A. microcarpa tinggi sekitar 35 m berdiameter sekitar 70 cm dengan nama daerah tengkaras, engkaras, karas, garu tulang dll. Sedangkan A. filaria tinggi pohon antara 15 – 18 m berdiameter sekitar 50 cm, di Irian Jaya memiliki nama daerah age dan di Maluku las. Tumbuh di hutan dataran rendah, rawa hingga ketinggian sekitar 150 m, pada kawasan beriklim kering bercurah hujan sekitar 1000 mm/th. A. beccariana, memiliki nama daerah mengkaras, gaharu dan gumbil nyabak. Tumbuh hingga ketinggian 850 m.dpl pada kondisi kawasan beriklim kering dengan curah hujan sekitar 1500 mm/th.

Gyrinops spp. 

Tumbuhan gaharu jenis ini berbentuk sebagai pohon yang memiliki  ciri dan sifat morfologis  yang relatif hampir sama dengan kelompok anggota famili Thymeleacae lainnya. Daun lonjong memanjang, hijau tua, tepi daun merata, ujung meruncing, panjang sekitar 8 cm, lebar 5 – 6 cm. Buah berwarna kuning- kemerahan dengan bentuk lonjong. Batang abu-kecoklatan, banyak cabang, tinggi pohon dapat mencapai 30 m dan berdiameter sekitar 50 cm. Daerah sebaran tumbuh di wilayah Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan potensi terbesar berada di Irian Jaya (Papua)

Aetoxylon spp,  
pohon dengan rataan tinggi sekitar 15 m, berdiameter antara 25 – 75 cm, kulit batang ke abu-abuan atau kehitam-hitaman dan bergetah putih. Bentuk daun bulat telur, lonjong, licin dan mengkilap dan bertanggkai daun sekitar 8 mm. Bunga dalam kelompok berjumlah antara 5 – 6 bunga, berbentuk seperti payung, dengan panjang tangkai bunga sekitar 9 mm, bentuk bunga membulat atau bersegi lima berdiameter sekitar 4 mm, buah membulat panjang sekitar 3 cm dan lebar 2 cm, serta tebal 1 cm.Tumbuh pada kawasan hutan dataran rendah dengan lahan kering berpasir, beriklim sedang dengan curah hujan sekitar 1400 mm/th, bersuhu sekitar 27 ° C dan berkelembaban sekitar 80 %. Gaharu dari jenis ini memiliki nama daerah sebagai kayu biduroh, laka, garu laka, garu buaya dan pelabayan.

Gonystylus spp, memiliki ciri dan sifat morfologis dengan tinggi dapat  mencapai 45 m dan berdiameter  antara 30 – 120 cm, memiliki tajuk tipis, dan berakar napas         (rawa), Bedaun tunggal, berbentuk bulat telur, panjang 4 – 15 cm, lebar 2 – 7 cm dengan ujung runcing, bertangkai daun 8 – 18 mm, licin dengan warna hijau-kehitaman. Bunga berbentuk malai berlapis dua, muncul diujung ranting atau ketiak daun, berwarna kuning, tangkai bunga panjang sekitar 1,5 cm. Berbuah keras, berbentuk bulat telur dengan ujung meruncing, memiliki 3 ruang, panjang 4 – 5 cm, lebar 3 – 4 cm, benih berwarna hitam. Gaharu dari jenis ini umumnya terbentuk pada bekas taksis duduk cabang, sehingga bentuk gaharu terbentuk umumnya berbentuk bulatan-bulatan. Nama daerah gaharu dari kelompok jenis ini adalah : karas, mengkaras, garu, halim,

alim, ketimunan, pinangbae, nio, garu buaya, garu pinang, bal, garu hideung, bunta, mengenrai, udi makiri, sirantih dll.

Enkleia spp, tumbuhan penghasil gaharu dari kelompok jenis ini berbentuk tumbuhan memanjat (liana) dengan panjang mencapai 30 m berdiameter sekitar 10 cm, batang kemerah-merahan, beranting dan memiliki alat pengait. Bunga berada diujung ranting, bertangkai bunga dengan panjang mencapai 30 cm, bunga berwarna putih atau kekuningan, Buah bulat-telur, panjang 1,25 cm dan lebar 0,5 cm. Dikenal dengan nama daerah tirap akar, akar dian dan akar hitam, garu cempaka, garu pinang, ki laba, medang karan, mengenrai, udi makiri, garu buaya, bunta dll.

Wiekstroemia spp. Pohon berbentuk semak dengan tinggi mencapai sekitar 7 m dan diameter sekitar 7,5 cm, ranting kemerah-merahan atau kecoklatan. Daun bulat telur,  atau elips/lancet, panjang 4 – 12 cm dan lebar 4 cm. Helai daun tipis, licin di dua permukaan, bertangkai daun panjang 3 cm. Bunga berada diujung ranting atau ketiak daun, berbentuk malai dan tiap malai menghasilkan 6 bunga dengan warna kuning, putih kehijauan atau putih, dengan tangkai bunga sekitar 1 mm, mahkota bunga lonjong atau bulat telur dengan panjang 8 mm dan lebar 5 mm berwarna merah. Kelompok gaharu dari jenis-jenis ini dikenal memiliki nama daerah, layak dan pohon pelanduk, kayu linggu, menameng atau terentak.

Dalbergia sp. sementara hanya ditemukan 1 jenis yakni D. parvifolia sebagai salah satu dari anggota famili Leguminoceae merupakan tumbuhan memanjat (liana) dan produk gaharunya kurang disukai pasar.

Excoccaria sp genus ini hanya ditemukan 1 jenis yakni E. agaloccha yang merupakan anggota famili Euphorbiacae tergolong tumbuhan tinggi dengan tinggi pohon antara 10 – 20 m dan dapat mencapai kelas diameter sekitar 40 cm. Produksi gaharunya kurang disukai pasar.


TEKNIK BUDIDAYA

          Beberapa aspek teknis dalam mengembangkan budidaya pohon penghasil gaharu, meliputi kegiatan sebagai berikut :

1. Pemilihan dan Pemolaan Lahan Tanam.

a.    Pemilihan Lahan

Sesuai sifat biofisiologis pertumbuhan tanaman penghasil gaharu yang bersifat semitoleran terhadap cahaya matahari langsung pada fase pertumbuhan vegetatif hingga umur antara 2 – 3 tahun, maka lahan tanam harus terpilih memiliki kondisi tersedianya naungan dengan cahaya masuk sekitar 60 – 70 %. Beberapa alternatif lahan budidaya untuk tanaman penghsil gaharu adalah :

a.1.  Hutan Produksi

      Pada lahan hutan produksi bekas tebangan (LOA) pada fase Et + 2/3 tahun, pohon gaharu dapat dibina sebagai tanaman perkayaan dengan populasi disesuaikan dengan kondisi lahan. Populasi pohon penghasil gaharu ditanamkan sesuai tingkat dan kondisi kerusakan areal tebang sesuai RKT tahunan.

         a.2.  Hutan Tanaman Industri (HTI)

                 Pada lahan HTI kayu pertukangan dengan daur tebang ± 20 tahun. Pohon HTI setelah 5 tahun tanam, ditanamkan pohon gaharu pada selang jarak tanam HTI yang dibina, pohon penghasil gaharu dapat dibina dalam kapasitas 250 – 300 batang/Ha yang dikemudian hari dapat menjadi sumber pendapatan tambahan.

         a.3.  Hutan Rakyat (HR)

                 Pada lahan hutan rakyat dapat dibina pohon penghasil gaharu sebagai tanaman tepi atau tanaman sisipan diantara berbagai jenis tanaman hutan rakyat ( kayu, tanaman buah-buahan dll). Kapasitas pohon penghasil gaharu dapat dipola sesuai kondisi pohon hutan rakyat yang dibina.

         a.4.  Lahan Tanaman Perkebunan.

                 Pada lahan pertanaman jenis karet atau pada kebun kelapa dan atau tanaman sawit pada selang jarak tanaman pokok, pohon penghasil gaharu dapat dikembangkan pada kondisi pohon inti telah berperan sebagai naungan. Kapasitas pohon penghasil gaharu dapat dipola antara 200 – 250 batang per hektar. 

b.    Pemolaan Lahan.

Dalam pemolaan lahan tanam akan meliputi jenis kegiatan pelaksanaan lapang berupa :

b.1. Penataan Batas.

       Lahan tanam tertata batas sesuai luasan areal yang akan ditanamkan pohon penghasil gaharu. Luasan areal merupakan tatanan teknis yang erat hubungannya dengan jumlah populasi pohon per hektar dan juga erat hubungannya dengan aspek ketenagaan, penentuan ketersediaan bahan dan perlengkapan serta pendanaan.

b.2. Pemolaan Lahan Tanam.

       Idealnya lahan tanam pada satuan luas lahan budidaya telah dan atau tersedia jenis-jenis tumbuhan lain yang dapat berperan sebagai naungan sementara, sehingga ideal sistem penanaman ditetapkan dengan jalur atau sistem cemplongan. Jenis kegiatan dalam pemolaan lahan akan meliputi :
   
  
(1)      Pembuatan Pola Tanam
-   Sistem Jalur

    Pola tanam dengan jalur dilakukan dengan membuka lahan pada  lebar antara 1 – 2 meter dan antar jalur dapat dipola sesuai rancangan jarak tanam (3 m/5 m). Dalam jalur dengan bantuan ajir ditetapkan jarak tanam (3 m/5 m).

-  Sistem Cemplongan
                Pola tanam dengan sistem cemplongan secara teknis dapat langsung ditentukan rencana jarak tanam yang akan digunakan. Pada satuan luas budidaya dengan bantuan ajir ditetapkan jarak tanam (3 m x 3 m, 3 m x  5 m, atau 5 m x 5 m).

(2)      Pembuatan lubang tanam.

               Pada setiap ajir sesuai jarak tanam yang ditetapkan, dibuat lubang tanam berukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm/40 cm, tanah galian pisahkan antara bagian atas (top soil) dan bagian bawahnya.

(3)  Pemupukan

               Sesuai kondisi lahan, idealnya pada setiap lubang tanam terbuat dalam kisaran waktu sekitar 1 bulan sebelum hari H tanam, diberikan pupuk dasar berupa kompos organik ( 1 – 2 kg/lubang) dan untuk merangsang pertumbuhan akar, berikan TSP sekitar 20 – 25 gram/lubang tanam.

2.  Penanaman.

a.    Waktu Tanam

      Proses pelaksanaan penanaman ditentukan ideal dilaksanakan pada awal periode musim hujan dengan asumsi agar penyulaman bibit per satuan luas dapat ditekan kurang dari  10 %.

b.  Teknis penanaman.

      b.1.  Pengangkutan bibit

              Bibit tanaman gaharu sekitar 1 – 2 bulan sebelum waktu tanam ideal telah diangkut ke lapangan, sebagai upaya penyesuaian pohon dengan kondisi lingkungan (aklimatisasi). Sekitar 1 minggu sebelum tanam bibit sudah ditempatkan pada setiap lubang tanam.


      b.2.  Penanaman

              Pelaksanaan tanam dimulai dengan teknis pengepalan media pada bibit, lepaskan polybag dan langsung tanamankan bibi dengan pangkal batang sejajar permukaan tanah, timbun dengan tanah permukaan dan padatkan. Letakan ajir melintang batang untuk menahan dan membuat batang tetap tegak dan bekas polybag letakan diujung ajir, sebagai tanda lubang tanam telah terisi oleh bibit.

3.  Pemeliharaan

     Sesuai sifat biologis pohon penghasil gaharu, serta upaya membangun riap tumbuh tanaman yang optimal mencapai kondisi siap diproduksi, lakukan pemeliharaan secara intensif hingan tanaman berumur sekitar 6 tahun. Jenis kegiartan pemeliharaan terdiri dari :

a.     Penyiangan
           Lakukan kegiatan penyiangan berbagai jenis gulma yang tumbuh di sekitar tanaman, sebagai upaya menurunkan tingkat kompetisi persaingan penggunaan hara lahan. Laksanakan minimal 3 – 4 kali per tahun.

b.     Pembumbunan.
 Pasca penyiangan dalam radius sekitar 1 meter, tanah sekitar tanaman gaharu digemburkan, sebagai upaya peningkatan oksidasi (pertukaran oksigen) dalam mempermudah penyerapan hara. Laksanakan 3 - 4 kali per tahun.

c.     Pemupukan.
           Perlakauan pemupukan dapat diberikan pupuk organik (kompos) dengan dosis sekitar 1 kg/pohon dan atau diberikan pupuk kimia dari jenis NPK dengan dosis sesuai perkembangan umur tanaman : 1 tahun 50 gram, 2 tahun 75 – 100 gram, 3 – 5 tahun sekitar 100 – 200 gram/pohon. Pemupukan dapat dilakukan interval antara 3 – 4 bulan.

d.     Proteksi Gangguan Biologis
 Dalam upaya menangkal kemungkinan terjadinya serangan hama atau penyakit lakukan kegiatan proteksi tanaman dengan kegiatan :

d.1.   Hama
  
         Untuk menangkal gangguan hama berupa ulat daun (Lepidoptera sp) dan belalang yang sering mengganggu pertanaman, pada interval 3/4 bulan, lakukan proteksi gangguan dengan pemberian pestisida sistemik yang dapat diberikan bersamaan dengan pemupukan.



d.2.   Penyakit
         Penyakit yang perlu diwaspadai adalah jamur atau bakteri yang menyerang perakaran. Untuk memproteksi gangguan penyakit tersebut, lakukan perbaikan drainase pada sekitar tanaman dan usahakan pada lingkungan tanaman tidak tejadi adanya genangan air yang mengundang berkembangnya jamur/bakteri penyakit
 



SUMBER PUSTAKA

Anonimous, 1998. Pasar kayu gaharu di dalam dan luar negeri. Prosiding Lokakarya Pengembangan Tanaman Gaharu, Ditjen RLPS, DEPHUT, Jakarta.
Anonimous, 2004. Tata niaga perdagangan gaharu Indonesia, Prosiding Renstra Gaharu, Ditjen RLPS,  Dephut, Jakarta.
Asgarin, 2002. Beberapa masalah dan kendala pengusahaan kayu gaharu, Prosiding Lokakarya Pengembangan Tanaman Gaharu, RLPS, DEPHUT, Jakarta.
Biro KLN dan Investasi, 2002.  Gaharu, Menjual Kayu dalam Gram,  Setjen DEPHUT, Jakarta.
Biro KLN dan Investasi, 2003. Strategi Generik Pengembangan Komoditas Gaharu,  Setjen DEPHUT, Jakarta.
Fitter. A. H. dan  R. K. M. Hay, 1992. Fisiologi Lingkungan Tanaman, Gajahmada University Press, Yogyakarta.
Gun, B & P. Steven, M. Singadan, L.Sunari, P. Chatterton, 2003. Eaglewood in Papua New Guinea, Tropical Rain Forest Project, Working Paper No. 51. Viatnam.
Kramer, P. J  dan T. T. Kozlowski, 1979. Physiology of Woody Plant, Academic Press  INC, London.
Larcher, W. 1975. Physiological Plant Ecology, Springer-Verlag, Heidelberg, New York.
Parman dan T. Mulayaningsih,  2002. Teknologi Pembudidayaan Tanaman Gaharu, Prosiding Lokakarya Pengembangan Tanaman Gaharu, RLPS Dephut, Jakarta.
Santoso, E. 1986 Pembentukan gaharu dengan cara inokulasi . Prosiding Diskusi Hasil Penelitian Menunjang Pemafaatan Hutan Lestari, P3H& KA, Bogor.
Sidiyasa, K dan S. Suharti, 1998. Potensi jenis pohon penghasil gaharu, Prosiding Lokakarya Pengembangan Tanaman Gaharu, RLPS Dephut, Jakarta.
Sumarna,  Y. 2002. Budidaya Gaharu, Seri Agribisnis, Penebar Swadaya, Jakarta.
Sumarna, Y. 2007. Budidaya dan Rekayasa Produksi Gaharu. Prosiding Gelar Teknologi Pemanfaatan IPTEK untuk Kesejahteraan Masyarakat, Purworejo.













BUDIDAYA POHON PENGHASIL GAHARU












Oleh :
PITRIYADI, S.HUT














PEMERINTAH KABUPATEN KETAPANG
DINAS KEHUTANAN






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar