Sabtu, 26 Mei 2012

KISAH KESEDERHANAAN BUNG HATTA DAN AGUS SALIM


Saat ini, sangat langka  sekali kita jumpai pejabat negara serta tokoh-tokoh di republic ini yang menjadikan dirinya keteladanan masyarakat dan bangsa ini. Semoga kisah-kisah teladan di bawah ini menjadi “cermin” bagi kita semua untuk lebih bersikap sederhana dalam aspek kehidupan ini
Bung Karno dan Bung Hatta Founding Father

BUNG HATTA

Di Indonesia, keteladanan sering diperlihatkan Pemimpin besar. Tidak mungkin memisahkan dari sikap kesederhanaan dan keteladanan oleh M. Hatta. Salah satu kisah mengugah dari Bung Hatta yang paling dikenang tentang sepatu Bally. Pada tahun 1950-an, Bally adalah merek sepatu bermutu tinggi yang berharga mahal. Bung Hatta, ketika masih menjabat sebagai wakil presiden, berniat membelinya. Untuk itulah, maka dia menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Setelah itu, dia pun berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut. Namun, apa yang terjadi? Ternyata uang tabungan tidak pernah mencukupi untuk membeli sepatu Bally. Ini tak lain karena uangnya selalu terambil untuk keperluan rumah tangga atau untuk membantu orang-orang yang datang kepadanya guna meminta pertolongan. Keinginan Bung Hatta untuk membeli sepasang sepatu Bally tak pernah kesampaian. Bahkan, yang lebih mengharukan, ternyata hingga wafat, guntingan iklan sepatu Ball tersebut masih tersimpan dengan baik. Barang lain yang juga tak mampu dibelinya adalah mesin jahit yang juga sudah lama didambakan sang istri.

Selain itu juga setelah pengunduran diri wakil Presiden, hidup M. Hatta semakin keuangan keluarga Bung Hatta memang sangat kritis. Sampai-sampai, pernah suatu saat Bung Hatta kaget melihat tagihan listrik, gas, air, dan telepon yang harus dibayarnya, karena mencekik leher. Cerita ini kemudian sampai ke Ali Sadikin (Gubernur DKI Jakarta). Ali Sadikin seorang Gubernur DKI kala itu harus membantu beliau untuk melunasi tunggakan beban listrik dan PBB karena selepas menjabat, saldo tabungan bung Hatta tinggal Rp. 200,-
Tulisan dan pikiran Hatta mewarnai pasal 33 UUD 1945.          
Bung Hatta dan Rahmi Hatta

Bung Hatta adalah pendiri Republik Indonesia, negarawan tulen, dan seorang ekonom yang handal. Di balik semua itu, ia juga adalah sosok yang rendah hati. Sifat kesederhanaannya pun dikenal sepanjang masa.
Bung Hatta wafat pada tanggal 14 Maret 1980 dan dimakamkan di tengah-tengah rakyat, di Pemakaman Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
Musisi Iwan Fals mengabadikan kepribadian Bung Hatta itu dalam sebuah lagu berjudul "Bung Hatta".
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu .....

H. AGUS SALIM

KH Agus Salim sangat sederhana, tegas, cerdas, nasionalis sejati dan menyayangi keluarganya. Sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan istilah KEPANDUAN, ia terlatih untuk mengedepankan kesederhanaan dalam kehidupannya.
KH. Agus Salim rela berjualan minyak tanah, sekadar memenuhi kebutuhan hidupnya. Tanpa rasa malu ia menjualnya dengan cara mengecer, meski pada saat itu dia sudah pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri dan perwakilan tetap Indonesia di PBB. Bahkan saat ada acara di Jogyakarta, KH.Agus Salim terpaksa membawa minyak tanah dan menjualnya disana. Hasil penjualan minyak tanah itu dipergunakan untuk menutupi ongkos perjalanan Jakarta-yogyakarta.

Cerita ini seakan-akan melengkapi saat menjadi Menteri Luar Negeri, sering pake singlet tanpa baju karena kepanasan. Agus Salim menggunakan baju setelah datang diplomat atau Menteri Luar Negeri lainnya. Setelah tamu itu pulang, Agus Salim kembali membuka baju dan menggunakan singletnya kembali. Dengan santai dia berkata ”Bisa dipakai untuk besok”.
Kiprah perjuangan “the grand old man” –julukan Soekarno terhadap Agus Salim– tidak hanya sebatas pendirian Indonesia. Pada beberapa kabinet, Agus Salim selalu menduduki peran sebagai menteri luar negeri. Posisinya itu menjadikan ia sering bertemu dan terlibat perdebatan alot dengan para diplomat Kerajaan Belanda. Salah satu diplomat itu adalah Prof. Schermerhon.
Sebagai seorang “musuh” Schermerhon memiliki kesan yang mendalam terhadap Agus Salim. Dalam Het dagboek van Schermerhoon (Buku Harian dari Schermerhoon), ia menggambarkan Agus Salim: “Orang tua yang sangat pandai ini adalah seorang yang jenius. Ia mampu bicara dan menulis secara sempurna sedikitnya dalam 9 bahasa. Kelemahannya hanya satu: ia hidup melarat.” 



 Tegas sebagai politisi, tapi sederhana dalam sikap dan keseharian. Dia berpindah-pindah rumah kontrakan ketika di Surabaya, Yogyakarta, dan Jakarta. Di rumah sederhana itulah dia menjadi pendidik bagi anak-anaknya, kecuali si bungsu, bukan memasukkannya ke pendidikan formal. Alasannya, selama hidupnya Agus Salim mendapat segalanya dari luar sekolah. ”Saya telah melalui jalan berlumpur akibat pendidikan kolonial,” ujarnya tentang penolakannya terhadap pendidikan formal kolonial yang juga sebagai bentuk pembangkangannya terhadap kekuasaan Belanda. Agus Salim wafat pada 4 November 1954 dalam usia 70 tahun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar